Kamis, 29 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
brksungguminasa.orgbrksungguminasa.org
brksungguminasa.org - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Di Kos Sendiri, Anak Sering Dicari: Jawaban Buat F...

Di Kos Sendiri, Anak Sering Dicari: Jawaban Buat Freelancer

Freelancer yang tinggal di kos dan punya anak sering ditanya hal-hal sama soal mengasuh. Ini jawaban jujurnya.

Di Kos Sendiri, Anak Sering Dicari: Jawaban Buat Freelancer

Gue sering dapat DM dari temen-temen freelancer yang baru punya anak. Pertanyaannya nyaris selalu sama: "Lo gimana bagi waktunya, kalau kerja dari kos?" atau "Anak lo nggak rewel kalau lo lagi meeting?" atau yang paling nyelekit, "Lo tega ya ninggalin anak buat kerja?"

Oke, gue nggak akan pura-pura punya jawaban sempurna. Tapi karena pertanyaan-pertanyaan ini terus berulang, gue rasa perlu ditulis biar nggak jawab satu-satu terus.

Kalau Kerja dari Kos, Anaknya Ditaruh di Mana?

Ini pertanyaan paling sering masuk. Jawaban singkatnya: tergantung kondisi lo. Ada freelancer yang kos-nya dekat rumah orang tua, jadi anak dititip siang hari. Ada yang kos-nya memang bukan buat anak, jadi anak tinggal sama pasangan di kota lain dan ketemu akhir pekan.

Baca juga: Coba Jadwalkan 7 Hari Tanpa Gawai di Rumah, Keluarga Desa Bisa Mulai dari Meja Makan

Gue sendiri pernah di posisi kedua. Selama hampir setahun, gue kerja dari kos sementara anak dan istri di kampung. Nggak ideal. Tapi waktu itu satu-satunya jalan supaya dapur tetap ngebul.

Yang perlu lo tahu: nggak ada satu formula yang berlaku buat semua freelancer. Kalau ada yang bilang "harus begini, harus begitu", biasanya dia belum pernah benar-benar di posisi lo.

Yang penting bukan di mana anak lo hari ini, tapi seberapa konsisten lo hadir saat lo memang bisa hadir.

Anak Rewel Pas Lagi Kerja, Gimana Ngatasinnya?

Ini pertanyaan kedua yang paling sering muncul. Dan jawabannya agak nggak enak: kadang nggak bisa diatasi, cuma bisa dikelola.

Beberapa hal yang gue pelajari dari pengalaman:

  • Bikin jam kerja yang jelas dan tempel di dinding. Anak kecil nggak paham konsep "deadline", tapi mereka bisa belajar pola. Kalau tiap hari jam 8-11 lo kerja dan pintu ditutup, lama-lama mereka ngerti.
  • Siapin aktivitas yang bisa dikerjakan sendiri. Buku gambar, mainan balok, apa pun yang bikin anak sibuk 30-40 menit tanpa harus manggil lo terus.
  • Jangan janji "sebentar lagi" kalau nggak jelas kapan. Anak lebih tenang kalau lo bilang "habis makan siang, Ayah main sama kamu" daripada "nanti ya, Ayah kerja dulu".
  • Sediakan waktu transisi. Habis kerja, jangan langsung buka HP lagi. Lima belas menit pertama buat anak itu penting banget buat mereka merasa dilihat.

Gue jujur aja: masih sering gagal. Ada hari di mana meeting penting rusak gara-gara anak nangis keras. Tapi yang bikin beda adalah setelah itu gue nggak diam-diam marah. Gue jelasin pelan-pelan kenapa Ayah tadi harus kerja.

Yang Sering Kelewat: Anak Butuh Lihat Lo Bekerja

Ini hal kecil yang ternyata ngaruh besar. Kalau anak lihat lo beneran kerja—ngetik, baca, telpon klien—mereka belajar bahwa kerja itu bagian normal dari hidup, bukan sesuatu yang bikin lo menghilang.

Gue pernah biarin anak gue duduk di sebelah sambil gambar, sementara gue ngerjain revisi desain. Nggak ideal, kadang ribet. Tapi setelah beberapa bulan, dia mulai ngerti: kalau laptop terbuka, Ayah lagi mode kerja. Kalau laptop ditutup, Ayah mode main.

Nggak Ketemu Anak Sehari-hari, Hubungannya Jadi Renggang?

Ini kekhawatiran yang paling sering nggak diucapin tapi paling nyata. Banyak freelancer yang kerja jauh dari anak takut hubungannya lama-lama dingin.

Menurut gue, yang bikin renggang bukan jaraknya, tapi ketidakhadiran yang nggak dijelasin. Anak yang nggak pernah dikasih tahu kenapa Ayah atau Ibunya nggak di rumah akan mengisi kekosongan itu dengan cerita sendiri—dan ceritanya biasanya nggak bagus.

Yang bisa lo lakuin:

  • Telpon atau video call rutin, tapi jangan cuma nanya "sudah makan?". Ceritain hal kecil yang lo alami hari itu.
  • Kirim suara atau video pendek, bukan cuma chat. Anak lebih nyambung sama suara dan wajah.
  • Simpan satu ritual yang selalu sama tiap ketemu— makan bareng di tempat yang sama, baca buku sebelum tidur, apa pun. Ritual bikin anak merasa ada yang tetap, meski lo sering nggak ada.

Gue inget waktu itu gue selalu video call tiap malam jam 8. Kadang cuma lima menit, kadang anak udah ngantuk dan nggak banyak ngomong. Tapi konsistensinya yang penting. Anak jadi tahu: jam 8, Ayah bakal muncul.

Jadi, Freelancer Bisa Nggak Sih Ngasuh Anak dengan Baik?

Bisa. Tapi bukan dengan cara yang sama kayak orang kantoran, dan bukan tanpa kompromi.

Yang perlu lo terima dari awal: lo bakal sering merasa kurang di dua sisi. Kurang fokus pas kerja karena mikirin anak, kurang hadir pas sama anak karena mikirin kerjaan. Itu normal. Hampir semua freelancer yang punya anak ngerasain hal yang sama.

Yang bikin beda adalah gimana lo menyikapinya. Kalau lo terus-terusan merasa bersalah, energi lo habis buat rasa bersalah itu sendiri, bukan buat anak atau kerjaan.

Ada satu hal yang gue pegang sampai sekarang: kualitas kehadiran lebih penting daripada jumlah jam. Anak nggak butuh lo 24 jam kalau tiap kali lo ada, lo sibuk sama HP. Anak butuh lo benar-benar ada—walau cuma satu jam—dengan perhatian penuh.

Dan kalau ada yang nanya lagi "lo tega ya ninggalin anak buat kerja?", jawaban gue sekarang: gue nggak ninggalin. Gue lagi kerja supaya bisa tetap ada buat dia. Bedanya tipis, tapi penting.

Buat temen-temen freelancer yang lagi di posisi ini: lo nggak harus punya jawaban sempurna buat semua orang. Cukup punya jawaban yang jujur buat diri lo sendiri dan anak lo. Sisanya, jalanin aja dulu. Lama-lama ketemu ritmenya.

Tags: freelancer mengasuh anak hubungan keluarga orang tua muda kerja remote