Kamis, 22 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
brksungguminasa.orgbrksungguminasa.org
brksungguminasa.org - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Sebulan Coba Dengar Dulu Sebelum Menyuruh, Rumah K...

Sebulan Coba Dengar Dulu Sebelum Menyuruh, Rumah Kami Jadi Lebih Tenang

Saya coba ubah cara bicara ke anak selama sebulan: dengar dulu, baru minta. Hasilnya di rumah kecil kami lumayan terasa.

Sebulan Coba Dengar Dulu Sebelum Menyuruh, Rumah Kami Jadi Lebih Tenang

Anak saya umurnya tujuh tahun, kelas satu SD. Kalau disuruh mandi, dia bisa pura-pura nggak dengar. Kalau disuruh makan, dia bilang "nanti dulu" sambil terus main. Hampir tiap sore rumah kami ribut. Bukan ribut besar, sih — cuma suara saya naik, dia nangis, lalu selesai. Besoknya kejadian lagi. Lama-lama capek juga.

Sebulan lalu saya coba satu hal yang sederhana banget: dengar dulu sebelum nyuruh. Nggak pakai aplikasi, nggak pakai buku panduan. Cuma satu aturan yang saya tempel di kepala sendiri — sebelum minta anak melakukan sesuatu, saya harus tahu dulu dia sedang apa dan kenapa dia belum mau.

Kenapa saya coba hal sesederhana ini

Sebenarnya berawal dari kejadian sepele. Suatu sore saya suruh dia mandi. Dia diam saja, mata tetap ke layar. Saya ulang tiga kali, makin keras. Akhirnya saya sentak. Dia kaget, terus bilang, "Ayah, aku belum selesai gambar."

Baca juga: Anak Kuliah Rantau: 5 Salah Kaprah soal Keluarga & Pola Asuh

Nah, di situ saya sadar. Selama ini saya nyuruh tanpa lihat apa yang dia kerjakan. Dari sudut pandang saya, gambar itu bisa dilanjut besok. Dari sudut pandang dia, gambarnya hampir jadi dan dia takut ilang. Dua-duanya masuk akal. Masalahnya saya nggak pernah tanya.

Baca Juga: 18totodaftarresmi.xyz

Jadi saya coba satu bulan. Aturannya cuma tiga:

  • Tanya dulu, "sedang apa?" sebelum minta tolong atau nyuruh
  • Kalau dia bilang "nanti", tanya "berapa lama lagi?" — biar dia yang nentuin, bukan saya
  • Kalau saya lagi kesal, saya tahan dulu 10 detik sebelum buka mulut

Kelihatannya gampang. Praktiknya, tiga hari pertama saya sering lupa. Terutama kalau saya capek pulang kerja atau pas hujan dan jemuran belum diangkat. Tapi karena saya catat di buku kecil tiap malam, saya jadi ingat terus.

Yang berubah di minggu pertama sampai ketiga

Minggu pertama, hasilnya belum kelihatan. Anak saya malah bingung. Waktu saya tanya "sedang apa?", dia jawab, "Ya main, Ayah." Nada bingung. Wajar, karena biasanya saya langsung nyuruh.

Tapi ada satu momen yang saya ingat. Hari kelima, saya tanya dia mau mandi jam berapa. Dia bilang, "Jam setengah lima ya, Ayah, aku selesaikan ini dulu." Dan benar, jam setengah lima dia masuk kamar mandi sendiri. Nggak saya suruh. Saya cuma diam di ruang tamu, agak nggak percaya.

Minggu kedua mulai terasa. Ribut sore berkurang. Bukan hilang, tapi berkurang. Kalau dulu hampir tiap hari ada suara keras, sekarang mungkin dua-tiga kali seminggu. Itu pun biasanya karena saya yang lupa aturan sendiri.

Yang paling saya rasakan bukan soal anak nurut. Justru saya yang berubah. Saya jadi lebih jarang naik suara. Dan kalau saya nggak naik suara, anak saya juga nggak nangis. Simpel banget, tapi selama ini nggak kepikiran.

"Ternyata masalahnya bukan anak yang susah diatur, tapi saya yang terlalu cepat nyuruh tanpa tahu situasinya."

Hal yang nggak saya duga

Ada efek samping yang nggak saya perkirakan. Anak saya jadi lebih sering cerita. Bukan cerita panjang, cuma potongan-potongan kecil. "Ayah, tadi di sekolah ada ulat." "Ayah, temanku bawa bekal bakso." Sebelumnya, kalau saya tanya "tadi di sekolah gimana?", jawabannya selalu "biasa aja".

Istri saya juga ikut kena efeknya. Dia mulai pakai cara yang sama ke anak. Sekarang kalau sore, kami berdua lebih banyak nanya daripada nyuruh. Suasana rumah jadi lebih adem. Nggak lebay, tapi beneran kerasa.

Yang tetap susah sampai sekarang

Saya nggak mau pura-pura semuanya jadi sempurna. Masih ada saat saya lupa. Terutama kalau saya sedang buru-buru atau lagi banyak pikiran. Kadang saya masih sentak juga. Bedanya, sekarang saya sadar dan minta maaf ke anak. Dulu, saya pikir minta maaf ke anak itu nggak perlu. Sekarang saya pikir itu justru penting — biar dia tahu orang dewasa juga bisa salah.

Selain itu, cara ini butuh waktu. Kalau kamu tipe yang pengin semuanya cepat, bakal agak nggak sabar. Nanya "berapa lama lagi?" lalu nunggu jawabannya itu rasanya lama, padahal cuma dua menit. Tapi dua menit itu yang bikin beda.

Kalau mau coba di rumah sendiri

Nggak perlu sebulan penuh buat mulai. Coba dulu satu minggu, satu aturan saja: tanya sebelum nyuruh. Nggak usah ribet, nggak usah beli apa-apa. Cukup tahan mulut sebentar, tanya satu pertanyaan, lalu dengar jawabannya sampai habis.

Buat yang tinggal di kampung atau kota kecil seperti saya, cara ini cocok banget. Kita nggak butuh tempat kursus atau seminar parenting. Yang kita butuh cuma kebiasaan kecil yang diulang tiap hari. Dan kebiasaan itu paling gampang dimulai dari rumah sendiri, di sore hari yang biasanya paling ribut.

Satu bulan memang bukan waktu yang lama. Tapi cukup buat saya sadar satu hal: anak saya sebenarnya bukan susah diatur. Dia cuma sering nggak didengar. Dan begitu saya mulai dengar, rumah kami pelan-pelan jadi lebih tenang — tanpa perlu siapa pun menang atau kalah.

Tags: komunikasi keluarga mengasuh anak parenting desa kebiasaan keluarga hubungan orang tua anak