Sabtu, 7 November 2026 Berita Terkini & Terpercaya
brksungguminasa.orgbrksungguminasa.org
brksungguminasa.org - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Sering Tinggal Tugas, Jangan Sampai Anak Jadi Korb...

Sering Tinggal Tugas, Jangan Sampai Anak Jadi Korban

Sering dinas luar kota bukan alasan hubungan dengan anak jadi renggang. Ini kesalahan umum yang sering terjadi dan cara menghindarinya.

Sering Tinggal Tugas, Jangan Sampai Anak Jadi Korban

Gue tahu rasanya jadi orangtua yang sering banget ninggalin rumah karena kerjaan. Pagi masih di rumah, sore udah di bandara, besok pagi udah di kota lain. Koper belum sepenuhnya dibuka, udah harus packing lagi. Dan di tengah semua itu, ada anak yang sebenarnya cuma pengen kamu ada.

Masalahnya, banyak dari kita — gue termasuk dulu — merasa udah cukup asal udah video call tiap malam atau kirim oleh-oleh tiap pulang. Padahal hubungan sama anak itu nggak sesederhana itu. Ada beberapa kesalahan yang sering banget kita lakuin tanpa sadar, dan efeknya baru kerasa belakangan. Ini yang perlu kamu waspadai.

Ngejar Kualitas Waktu, tapi Lupa Kuantitasnya

Ini kesalahan paling umum. Kita sering dengar kalimat "yang penting kualitas waktunya, bukan kuantitasnya." Kedengarannya bijak, tapi kenyataannya sering jadi alasan buat membenarkan diri sendiri.

Baca juga: Rindu Rumah Menggerogoti Kuliah, Ini Cara Saya Mengasuh Adik dari Kos

Anak itu nggak ngerti konsep quality time. Yang dia tahu, ayah atau ibunya nggak ada di rumah. Titik. Kamu bisa aja ngajak dia main ke tempat mahal pas pulang, tapi kalau sebulan cuma ketemu dua hari, ya tetap aja dia merasa ditinggal.

Yang gue pelajari dari pengalaman: kualitas waktu itu justru lahir dari kuantitas yang konsisten. Anak jadi nyaman cerita banyak hal bukan karena satu sesi liburan spektakuler, tapi karena dia terbiasa ngobrol sama kamu setiap hari, walau cuma lima menit lewat telepon.

Anak nggak butuh momen sempurna. Dia butuh kehadiran yang bisa dia prediksi.

Jadi mulai sekarang, coba jadwalin waktu kecil yang rutin. Telepon sebelum dia tidur, walau kamu lagi di hotel yang sinyalnya pas-pasan. Konsisten, walau singkat, jauh lebih berarti daripada intens tapi cuma sekali sebulan.

Jadi "Orangtua Liburan" yang Selalu Menyenangkan

Nah ini jebakan yang halus banget. Karena jarang ketemu, kita jadi nggak tega marahin, nggak tega nolak permintaan, dan selalu berusaha bikin anak senang. Ujungnya, kamu jadi orangtua yang cuma hadir buat seneng-senengnya aja.

Gue pernah di posisi ini. Setiap pulang, rasanya kok tega banget kalau harus ngomel soal PR yang belum dikerjakan atau jam tidur yang kacau. Akhirnya semua aturan dilonggarin. Dan apa yang terjadi? Anak jadi bingung, karena aturan di rumah beda-beda tergantung siapa yang jaga.

Ini nggak sehat buat anak. Dia butuh batasan yang konsisten dari kedua orangtuanya, bukan dua versi aturan yang berbeda. Kalau kamu sering pergi, justru penting banget buat tetap ikut menegakkan aturan yang sama dengan pasanganmu di rumah.

Solusinya: sepakati aturan bareng pasangan

Sebelum berangkat, diskusiin sama pasangan soal aturan apa yang berlaku. Jam tidur, batas main gadget, PR harus selesai dulu. Lalu pastiin kamu juga ikut menegakkan itu saat di rumah. Anak nggak akan merasa "ditinggal" hanya karena kamu tetap tegas — dia justru merasa aman karena tahu batasannya jelas.

Ngeluh Soal Kerjaan di Depan Anak

Ini yang sering nggak disadari. Kita pulang capek, terus tanpa mikir ngomong, "Duh, Bapak capek banget kerja, harus pergi lagi besok." Atau, "Mama sedih harus ninggalin kamu, tapi ya gimana, kerjaan."

Niatnya sih jujur dan pengen anak ngerti. Tapi buat anak kecil, kalimat kayak gitu bisa diterjemahin jadi: "Aku ini beban buat orangtuaku." Atau lebih parah, dia jadi merasa bersalah karena bikin orangtuanya sedih.

Anak nggak perlu tahu semua beban kerjaanmu. Yang dia butuh itu kepastian bahwa dia tetap jadi prioritas, walau kamu harus pergi. Ganti kalimatnya jadi sesuatu yang menenangkan: "Bapak pergi kerja sebentar, terus pulang bawa cerita buat kamu." Simpel, tapi efeknya beda banget.

Nunggu Sampai Punya Waktu Banyak Baru Ngobrol Serius

Banyak orangtua yang nunda obrolan penting — soal perasaan anak, masalah di sekolah, atau hal-hal yang lagi dia pikirin — sampai "nanti pas ada waktu luang." Masalahnya, waktu luang itu nggak pernah datang. Selalu ada aja yang harus dikerjain.

Dan anak itu makhluk yang cepat berubah. Kalau kamu nunda ngobrol soal masalahnya minggu ini, minggu depan dia udah males cerita lagi. Pintunya udah ketutup.

Gue belajar buat nyisipin obrolan kecil di sela-sela kesibukan. Di mobil waktu anter ke sekolah, pas lagi video call sebelum tidur, atau bahkan sambil bantu dia ngerjain PR lewat video call. Nggak perlu momen khusus. Yang penting kamu hadir dan benar-benar dengerin, bukan cuma nanya "gimana sekolah?" terus lanjut main HP.

  • Dengerin tanpa langsung ngasih solusi. Kadang anak cuma pengen didengerin, bukan dinasihatin.
  • Tanya hal spesifik. "Tadi main sama siapa?" lebih memancing cerita daripada "Gimana hari ini?"
  • Jangan buru-buru ganti topik. Kalau dia mulai cerita, biarin dia selesai dulu.

Intinya, jadi orangtua yang sering bepergian itu bukan soal seberapa sering kamu ada, tapi seberapa konsisten kamu hadir — walau cuma lewat suara di telepon. Kesalahan-kesalahan di atas bisa dihindari asal kamu sadar dan mau sedikit ngubah kebiasaan. Anak nggak butuh orangtua yang sempurna. Dia cuma butuh tahu bahwa dia selalu punya tempat di hatimu, di mana pun kamu berada.

===AKHIR===
Tags: parenting jarak jauh hubungan orangtua anak pola asuh sering dinas komunikasi keluarga