Jadi mahasiswa rantau itu kayak hidup di dua dunia. Di satu sisi, kamu harus mandiri — masak sendiri, atur uang sendiri, cuci baju sendiri. Di sisi lain, kamu masih anak orang tua yang kadang bingung harus bersikap gimana ke keluarga yang jauh di sana. Nah, dari pengalaman gue ngobrol sama banyak anak kos dan beberapa teman yang udah lulus, ada pola kesalahan yang sering banget keulang. Bukan cuma soal kangen atau nggak, tapi soal cara kita memandang keluarga dan pola asuh yang kita bawa dari rumah.
1. Menganggap "Jauh" Berarti "Nggak Perlu Ikut Campur"
Ini kesalahan paling umum. Begitu udah ngekos, banyak yang langsung merasa, "Ah, urusan keluarga di rumah bukan urusanku lagi." Padahal, kamu masih bagian dari keluarga itu. Adik kamu yang masih SMP mungkin lagi butuh kakak yang bisa diajak cerita. Ibu kamu mungkin capek ngurusin hal-hal kecil yang dulu biasa kamu bantu.
Gue pernah ngalamin ini waktu semester tiga. Gue sibuk banget sama organisasi dan tugas, sampai nggak sadar adik gue udah dua minggu nggak masuk sekolah. Ibu baru cerita pas gue telepon. Rasanya kayak ditampar. Sejak itu, gue biasain diri buat nanya hal-hal kecil: "Adik gimana? Sekolah lancar?" Simpel, tapi ngaruh banget.
Menghindari kesalahan ini nggak susah. Cukup sempatkan satu-dua kali seminggu buat telepon atau video call. Nggak usah lama-lama, 15 menit aja. Yang penting konsisten dan nanya hal yang spesifik, bukan cuma "gimana kabarnya?" yang jawabannya pasti "baik".
2. Meniru Pola Asuh Orang Tua Tanpa Sadar
Ini agak dalam, tapi penting banget buat kamu yang mungkin someday pengen punya anak atau ngasuh adik. Tanpa sadar, kita sering mengulang pola asuh yang kita alami. Kalau dulu orang tua kita keras dan nggak bisa diajak diskusi, kita bisa jadi ikut keras ke adik atau keponakan.
Gue punya teman yang sering banget ngomel ke adiknya dengan nada yang persis kayak ayahnya dulu ngomel ke dia. Pas gue tanya, dia baru sadar. "Ya ampun, gue jadi kayak bapak gue ya," katanya.
Pola asuh itu bukan cuma soal apa yang kita lakukan, tapi juga apa yang kita warisi tanpa sadar.
Cara menghindarinya? Mulai dari sadar. Coba inget-inget momen waktu kecil yang bikin kamu kesel sama perlakuan orang tua. Terus tanya ke diri sendiri: "Gue ngulang nggak nih pola itu ke orang lain?" Kalau iya, nggak apa-apa. Yang penting kamu mau belajar dan berubah.
Kenapa Mahasiswa Rantau Rentan Mengulang Pola Ini?
Karena kita jauh dari rumah, kita nggak punya banyak role model pengasuhan. Jadi ya, otomatis kita ngambil dari yang paling dekat: orang tua kita sendiri. Ditambah lagi, stres kuliah dan hidup mandiri bikin kita gampang reaktif. Ujung-ujungnya, pola lama muncul lagi.
3. Merasa Bersalah Berlebihan karena Nggak Bisa Bantu Banyak
Ini juga sering banget. Kamu pengen bantu biaya adik sekolah, tapi uang bulanan kamu pas-pasan. Kamu pengen pulang tiap bulan, tapi ongkosnya mahal. Akhirnya kamu merasa jadi anak yang nggak guna.
Gue pernah di fase ini. Rasanya pengen pulang terus, tapi nggak bisa. Setiap telepon sama ibu, gue nangis diam-diam. Padahal ibu gue justru bilang, "Kamu fokus aja belajar. Itu udah bantu banget buat ibu."
Kuncinya, ubah cara pandang. Bantu itu nggak harus berupa uang atau tenaga fisik. Bisa berupa perhatian, doa, atau sekadar jadi pendengar yang baik buat keluarga. Kirim pesan singkat ke ibu, "Ma, makasih ya udah masak enak terus." Kecil, tapi ngena.
4. Lupa Bahwa Orang Tua Juga Manusia Biasa
Ini yang sering bikin hubungan keluarga jadi kaku. Kita nuntut orang tua harus sempurna — harus ngerti teknologi, harus nggak pilih kasih, harus selalu sabar. Padahal mereka juga punya capek, punya salah, punya masa lalu yang nggak gampang.
Waktu gue pulang kampung, gue baru sadar ayah gue udah mulai pelupa. Dia sering nanya hal yang sama dua kali. Awalnya gue kesel. Tapi pas gue inget dia udah kerja keras puluhan tahun buat kuliahin gue, gue jadi malu sendiri.
Cara menghindarinya: coba deh, sekali waktu, tanya orang tua soal masa mudanya. "Dulu Ibu pengen jadi apa?" atau "Ayah dulu kuliah gimana?" Kamu bakal kaget, ternyata mereka punya cerita yang bikin kamu ngerti kenapa mereka jadi seperti sekarang.
Jangan Samakan Standar Pengasuhan Dulu dan Sekarang
Dulu, pola asuh lebih banyak otoriter. Sekarang, kita lebih paham soal kesehatan mental dan komunikasi dua arah. Jangan marahin orang tua karena mereka "nggak ngerti". Sebaliknya, ajak mereka ngobrol pelan-pelan. Nggak usah ngotot, cukup tunjukin dengan sikap kamu.
5. Menganggap Keluarga Cuma "Tempat Pulang", Bukan "Tempat Belajar"
Ini yang paling sering gue lihat. Banyak mahasiswa rantau yang menganggap rumah cuma tempat buat lebaran atau minta uang. Padahal, keluarga itu laboratorium pertama buat belajar cara berhubungan sama orang lain.
Di keluarga, kamu belajar sabar, belajar negosiasi, belajar minta maaf, belajar nggak egois. Kalau kamu cuma datang pas butuh, kamu kehilangan kesempatan belajar itu. Dan tanpa sadar, kamu jadi pribadi yang nggak bisa bangun hubungan sehat sama orang lain.
Coba deh, mulai sekarang, posisikan keluarga sebagai tempat kamu belajar. Misalnya, waktu adik kamu ngambek, jangan langsung marah. Coba tanya, "Kenapa? Cerita dong." Itu latihan empati yang bakal kepake banget di dunia kerja dan hubungan sosial.
Gue sendiri ngerasain banget bedanya. Dulu gue tipe yang cuma telepon kalau butuh uang. Sekarang, gue justru sering telepon cuma buat cerita hal receh. Dan hubungan gue sama keluarga jadi jauh lebih hangat. Nggak ada yang instan, tapi usaha kecil tiap hari itu yang ngubah segalanya.
Jadi, buat kamu yang lagi merantau, nggak perlu jadi anak sempurna. Cukup sadar aja sama lima kesalahan di atas, dan pelan-pelan perbaiki. Keluarga itu bukan beban, tapi rumah yang selalu bisa kamu kembaliin — kapan pun, dalam kondisi apa pun.