Senin, 2 November 2026 Berita Terkini & Terpercaya
brksungguminasa.orgbrksungguminasa.org
brksungguminasa.org - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Coba Telepon Ortu Tanpa Minta Uang, Rasanya Beda B...

Coba Telepon Ortu Tanpa Minta Uang, Rasanya Beda Banget

Mahasiswa perantau sering cuma menghubungi orang tua kalau butuh transfer. Padahal ngobrol tanpa agenda bisa jadi latihan jadi orang tua nanti.

Coba Telepon Ortu Tanpa Minta Uang, Rasanya Beda Banget

Gue pernah ngalamin satu momen yang bikin gue agak malu sama diri sendiri. Lagi duduk di kos, HP bunyi, notifikasi transferan bulanan masuk. Gue langsung buka chat, ketik "makasih ma", terus tutup lagi. Nggak sampai dua menit. Padahal sebelumnya udah hampir dua minggu nggak ngobrol sama nyokap selain soal uang bulanan itu.

Dan gue yakin gue nggak sendirian. Coba deh cek history chat kamu sama orang tua. Kalau pola terakhirnya cuma "udah transfer belum", "buat bayar kos", "kirim struk", ya kita satu frekuensi.

Ada satu hal soal hubungan keluarga yang jarang banget dibahas di obrolan anak kos. Bukan soal rindu, bukan soal homesick. Tapi soal gimana cara kita berkomunikasi sama orang tua sekarang, itu bakal jadi cetakan buat cara kita ngobrol sama anak kita nanti. Serius, ini bukan lebay.

Baca juga: Di Kos Sendiri, Anak Sering Dicari: Jawaban Buat Freelancer

Telepon yang Nggak Ada Agenda Itu Latihan yang Nggak Ada Kelasnya

Kita semua tahu rasanya ditelepon ortu cuma buat ditanya "kapan wisuda". Nggak nyaman. Tapi coba balik posisinya: ortu kita juga mungkin ngerasa aneh kalau tiba-tiba kita nelpon cuma buat nanya "papa udah makan?".

Nah, di situ letaknya. Kita nggak pernah dilatih ngobrol sama keluarga tanpa tujuan transaksional. Semua interaksi dibungkus kebutuhan: minta uang, minta izin, minta tanda tangan, minta doa sebelum ujian. Nggak ada ruang buat ngobrol kosong yang fungsinya cuma biar dua orang tetap terhubung.

Padahal, kemampuan ngobrol tanpa agenda itu yang nanti kepakai banget kalau kamu punya anak. Anak nggak butuh kamu ngobrol sama dia cuma pas ada masalah. Anak butuh kamu ada di momen-momen sepi, pas dia lagi nggak ada topik. Kalau sekarang kamu nggak pernah latihan sama ortu sendiri, dari mana datangnya kebiasaan itu?

Ngobrol tanpa tujuan itu bukan buang waktu. Itu cara paling murah buat bilang "gue masih ada di sini" tanpa harus pake kata-kata berat.

Yang Nggak Pernah Dibahas: Kita Meniru Pola, Bukan Mendengarkan Nasihat

Ini bagian yang agak nusuk. Banyak dari kita tumbuh di keluarga yang komunikasinya fungsional banget. Ortu kerja, kita sekolah, pulang, makan, tidur. Nggak ada budaya ngobrol panjang di meja makan. Nggak ada kebiasaan cerita hal receh.

Waktu kita pergi merantau, pola itu kebawa. Kita jadi orang yang susah cerita. Susah bilang "hari ini gue capek banget" tanpa nunggu ditanya. Susah bilang "gue kangen" karena rasanya canggung.

Dan pola yang sama bakal keulang. Bukan karena kita nggak sayang anak kita nanti, tapi karena kita nggak punya contoh lain. Kita nggak bisa ngajarin anak buat terbuka kalau kita sendiri nggak pernah belajar caranya.

Makanya, momen kuliah di perantauan ini sebenarnya kesempatan emas. Ini periode di mana kamu punya jarak fisik dari ortu, tapi masih punya waktu buat membangun ulang cara komunikasi. Nanti setelah punya keluarga sendiri, waktu dan energinya jauh lebih sempit.

Hal kecil yang bisa kamu coba minggu ini

  • Telepon ortu di jam yang nggak biasa, misalnya Sabtu pagi, dan mulai dengan "nggak ada apa-apa sih, cuma pengen denger suara".
  • Kirim foto random. Kos yang berantakan, makanan yang kamu masak (dan gagal), kucing yang lewat di depan kos.
  • Tanya satu hal tentang masa muda ortu. "Dulu mama kos di mana?" Biasanya jawabannya panjang dan kamu bakal denger versi ortu yang belum pernah kamu kenal.
  • Jangan buru-buru nutup telepon. Biarin ada jeda canggung. Latihan.

Kenapa Ini Penting Banget buat Kamu yang Jauh dari Rumah

Ada satu fakta yang sering kita hindari: waktu kita sama ortu nggak sebanyak yang kita kira. Kalau kamu merantau, ketemu ortu mungkin cuma dua kali setahun. Dihitung kasar, dalam sepuluh tahun ke depan, kamu mungkin cuma habiskan beberapa bulan total bareng mereka.

Dan yang lebih pahit: hubungan yang cuma dibangun lewat transferan itu rapuh. Begitu kamu lulus, mandiri secara finansial, topik obrolan kalian bisa habis. Banyak banget orang dewasa yang akhirnya ngerasa canggung sama ortunya sendiri karena bertahun-tahun komunikasinya cuma soal uang dan logistik.

Gue nggak mau itu kejadian ke kamu. Atau ke gue.

Yang bikin perubahan itu susah adalah karena nggak ada momen dramatisnya. Nggak ada film, nggak ada lagu, nggak ada caption motivasi. Cuma kamu, HP, dan keputusan kecil buat nelepon tanpa alasan. Itu aja.

Tapi justru dari situ semuanya dimulai. Anak yang tumbuh di keluarga yang ortunya biasa ngobrol tanpa agenda bakal lebih gampang cerita kalau ada masalah. Bukan karena dia anak yang lebih terbuka, tapi karena dia nggak pernah ngerasa ngobrol sama ortu itu harus ada urusannya.

Mulai dari Satu Telepon yang Canggung

Gue nggak bakal bilang ini bakal langsung mengubah hidup kamu. Telepon pertama mungkin canggung. Ortu kamu mungkin malah curiga kamu kenapa-napa. "Ada masalah? Duit habis?" Itu normal. Mereka juga nggak terbiasa.

Tapi coba lagi minggu depan. Dan minggu depannya lagi. Pelan-pelan, "nggak ada apa-apa kok" bakal jadi kalimat yang nggak aneh lagi. Dan suatu hari, pas kamu punya anak sendiri dan dia nelpon kamu cuma buat cerita hal receh, kamu bakal tahu harus jawab apa. Karena kamu pernah belajar dari ortu kamu sendiri.

Jadi ya, coba deh. Malam ini, sebelum tidur, telepon rumah. Nggak usah lama-lama. Nggak usah minta apa-apa. Cukup tanya, "udah makan belum?"

Tags: mahasiswa perantau hubungan keluarga pola asuh komunikasi orang tua anak kos